PENDAHULUAN
Dalam beberapa waktu belakangan ini banyak sekali masyarakat kita yang
mencoba berbudidaya ikan lele baik di pembesaran maupun
pembenihannya.Kebanyakan yang dipilih adalah pembesaran yang “katanya”
lebih gampang. Faktor yang melatar belakangi budidaya di masyarakat kita
adalah :
1. Kesulitan ekonomi masyarakat secara global
2. Mendapat informasi dari teman atau keluarga yang telah berkecimpung di budidaya lele
3. Tertarik dengan banyaknya buku buku tentang budidaya ikan lele
4. Adanya lahan kosong yang bisa bermanfaat bila dikembangkan
Pada kenyataannya setelah beberapa waktu berbudidaya ternyata banyak
sekali yang menemui kegagalan.Beberapa kejadian yang sering terjadi
dalam budidaya ikan lele adalah:
1. Banyak ikan lele yang hilang/sakit
2. Hasil atau tonase jauh dari harapan
3. Banyaknya kerugian yang dialami
Kalau dilihat dari harga di pasaran jelas sangat menggiurkan.1 kg ikan
lele bisa sampai Rp 15.000.00. Inilah yang banyak budidayawan terjebak
ingin mencoba budidaya ikan lele.padahal budidaya ikan lele bukan coba
coba. Harga yang melambung tinggi harusnya bisa disimpulkan kalau
budidaya ikan lele tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Karena hal hal tersebut saya ingin meluruskan dan mencoba membantu
masyarakat lewat tulisan yang mungkin secara tampilan tidak terlalu
bagus tapi isi dari tulisan ini insyaAllah bisa bermanfaat bagi
masyarakt pada umumnya dan pembudidaya ikan lele pada khususnya.
Didalam tulisan ini insya Allah akan dikupas lebih lanjut beberapa
faktor yang menjadi kendala bagi budidaya ikan lele. Dan bila ada yang
berminat dan serius menekuni budidaya ini bisa menghubungi penulis.
FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI BERBUDIDAYA IKAN LELE
Budidaya ikan lele sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia pada
umumnya dan masyarakat pulau jawa pada khususnya. Harga benih maupun
ikan lele konsumsi melambung tinggi. Inilah yang menggiurkan sebagian
orang untuk berkecimpung dalam usaha budidaya ikan lele. Ada yang
mempunyai modal tinggi maupun modal yang pas pas an mencoba
peruntungan.Sayang sekali tekad yang dipunyai tidak disertai dengan
pengetahuan tentang program budi daya lele dengan benar. Mereka hanya
tahu setengah setengah.entah dari buku atau orang orang yang
“katanya”sudah pernah berkecimpung dalam usaha itu awalau kebenarannya
diragukan. Akhirnya budidaya yang dilakukan sekedar pekerjaan yang hanya
membuang tenaga dan uang saja.
Faktor yang membuat masyarakat ingin berbudidaya adalah :
1. KESULITAN EKONOMI MASYARAKAT SECARA GLOBAL
Pada masa sekarang ini tidak dapat dipungkiri ekonomi kita terpuruk.
Harga barang pokok melonjak drastis. Pendapatan sebulan yang dulu bisa
untuk keperluan lain lain sekarang untuk beli lauk telur pun susah
apalagi daging. Hal inilah yang memicu sesorang untuk mendapatkan hasil
sampingan selain penghasilan pokok. Salah satu yang bisa diandalkan
adalah budidaya ikan lele. Walaupun sampai sekarang jarang yang
berhasil.Hal inilah yang menyebabkan harga ikan lele melambung tinggi.
Barang langka di pasar maka harga barang akan naik dan permintaan
meningkat.
2. MENDAPAT INFORMASI DARI TEMAN ATAU KELUARGA YANG TELAH BERKECIMPUNG DI BUDIDAYA LELE
Kalau dihitung banyak masyarakat kita yang sudah berkecimpung diusaha
budidaya ikan lele. Sebanyak 80% menggunakan sistem tradisional dan
hanya 20 % yang menggunakan sistem semi intensif dan intensif. Bagi
orang awam gagal atau tidaknya budidaya yang tahu hanya pelaksananya
saja. Masyarakat akan memandang bila ada lele yang banyak sekali dikolam
berarti untung.Padahal belum tentu.Dan bila ada yang bertanya tentang
hasil panen itu pasti jawabnya “ UNTUNG”. Kenapa jawabnya seperti itu
padahal bila yang melihat orang budidaya pasti RUGI. Jawabnya: MALU.
Inilah yang sering dipakai dimasyarakat kita.kita percaya omongan orang
tanpa tahu kebenarannya.Setelah mengikuti teman kita baru kita tahu
bahwa benar budidaya itu susah sah gampang. Budaya IKUT IKUT an inilah
yang menjadikan banyak budidaya mengalami kegagalan.
3. Tertarik dengan banyaknya buku buku tentang budidaya ikan lele
Bila kita berkunjung ke toko buku baik yang besar maupun kecil banyak
sekali dijual buku buku tentang budidaya ikan lele. Bagi masyarakat yang
masih awam dari buku inilah mereka dapat ilmu tentang program budidaya
ikan lele. Tapi patut disayangkan banyak buku buku itu justru
menjerumuskan masyarakat yang baru pertama kali berkecimpung dalam
budidaya ikan lele. Terutama pada bagian analisa usaha serta proses
budidaya itu sendiri. Terkesan program yang ditawarkan terlalu muluk
muluk. Keuntungan yang sangat besar hampir tidak ada resiko. Tetapi
kenyataannya banyak yang mengalami kegagalan. Dalam tulisan ini penulis
akan mengupas hal hal yang harusnya ada dalam budidaya
4. Adanya lahan kosong yang bisa bermanfaat bila dikembangkan
Di pedesaan banyak sekali tanah dan lahan kosong yang tidak
produktif.Hal ini dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk membuat kolam
ikan.Sayang sekali kolam yang digunakan masih tradisional yaitu dengan
cara membuat lubang atau kubangan sehingga bisa menjadi kolam
ikan.Padahal ini sangat tidak efektif untuk budidaya ikan lele.Mengapa?
Jawabanya ada dalam tulisan ini.
BEBERAPA PARADIGMA YANG KELIRU TENTANG BERBUDIDAYA
1. BENIH IKAN
Banyak dari teman teman budidaya kita meremehkan tentang benih ikan lele
yang akan di tebar. Kita kadang “sembarangan” dalam hal memilih dan
membeli benih ikan lele.
Mereka menyediakan bibit lele dari 2 kondisi yaitu dari pembenihan
dengan kolam tanah dan tanpa tanah.Banyak yang melakukan pembesaran ikan
lele di kolam terpal atau tembok yang tanpa tanah tapi bibit yang
digunakan bibit lele dari kolam tanah. Padahal hal ini salah karena
terdapat 2 kondisi yang berbeda.yaitu dari kondisi yang baik ke kondisi
yang lebih ekstrem. Hasilnya pertumbuhan lambat,banyak yang kena
penyakit dan bermuara pada hasil panen yang merosot tidak sesuai dengan
keinginan.
Untuk mengetahui mengapa bisa seperti itu dan bagaimana cara mengatasinya dapat menghubungi penulis.
2. PAKAN
Banyak pembudidaya dalam mengelola pembesaran ikan lele menggunakan
program pakan sesukanya dengan menghiraukan prosedur yang ada. Ada yang
menggunakan pakan pelet standar tapi hanya sebagian atau malah kurang
dari 50%. Mereka menambahkan pakan dengan daging,kerang,ayam mati,tikus
mati dan beberapa daging yang tidak terpakai untuk porsi pakan ikan
lele. Sepintas kalau dilihat memang ekonomis dari biaya pakan yang cukup
mahal. Tetapi sebenarnya hal tersebut jusru akan merugikan petani
budidaya. Boleh di cek yang menggunakan pakan tambahan tersebut diatas
pasti mengalami kerugian total.Hasil panen menurun drastis misalnya
harusnya menghasilkan 200 kg yang ada hanya 20 – 40 kg dengan tambahan
adanya ikan lele berukuran super besar 3 – 5 ekor..Benar atau
tidak?Setelah itu petani budidaya akan bingung kenapa bisa
terjadi.padahal sudah diberi pakan tambahan yang kalau dilihat “Lebih
bergizi dan berprotein”(Menurut perasaan).
Disini penulis ada jawabannya dan cara mengatasinya.bila berminatdapat
menghubungi penulis untuk mendapatkan jawaban dan cara mengatasinya.
3. JUMLAH TEBAR
Untuk jumlah tebar sebagian besar petani budidaya ikan lele jarang yang
menghitung berapa jumlah yang sesuai dengan kolam yang dipunyai. Tidak
jarang untuk kolam denga luas 3 x 5 meter di beri bibit ikan lele lebih
dari 10.000 ekor. Hasilnya banyak ikan yang tidak tumbuh. Muncul
pertanyaan “ kok gak besar besar lele yang dipelihara.”. dan setelah
dipanen lagi lagi hasil panen mengecewakan.selain tonase kurang dari
yang diharapkan ikan yang dihasilkan kurus kurus dan tidak disukai
pasar.Apa yang terjadi..
Lewat modul yang disusun oleh penulis akan didapat jawabannya dan dapat
diketahui cara mengatasinya. Tertarik? Anda dapat menghubungi penulis.
4. KOLAM
Pemilihan kolam yang dipakai untuk budidaya kadang terlihat
sepele.padahal itu menentukan keberhasilan dan kelangsungan budidaya
lele itu sendiri. Banyak petani budidaya yang gulung tikar atau rugi
terus menerus karena salah memilih bentuk kolam.Ada beberapa jenis kolam
yang digunakan dalam budidaya ikan lele dari kolam beton/tembok,kolam
tanah,kolam terpal atau perpaduan dua kolam tersebut.
Masing masing mempunyai kelebihan dan kelemahan masing masing..tetapi
ada satu yang lebih ekonomis,efektif dan efisien..dan kolam itu adalah
kolam terpal dengan desain tertentu.mengapa desain tertentu.karena ada
beberapa keunggulan kolam itu dibanding kolam lain.salah satunya bisa
menghemat biaya operasional dan praktis.ada kelebihan lain. Kelihatan
sederhana tapi bisa dibuktikan keefektifan dan keefisiennya
Anda bisa dapatkan model kolam itu dengan menghubungi penulis untuk
mendapatkan modul yang akan mengupas segala persoalan budidaya itu.
5. AREAL KOLAM
Yang dimaksud dengan areal kolam adalah tanah atau lahan yang akan
digunakan untuk budidaya ikan lele.Kadang kita menggunakan areal luas
yang seharusnya bisa menghasilkan 8 juta – 10 juta rupiah tetapi banyak
yang hanya mendapatkan untung ratusan ribu bahkan merugi yang akhirnya
terbengkalai menjadi lahan yang tidak efektif.
Didalam tulisan atau modul yang disusun penulis anda akan dapatkan cara memanfaatkan lahan seoptimal mungkin.
6. HILANG ATAU BERKURANGNYA IKAN LELE
Ada anggapan sebagian teman teman budidaya kita hilang atau berkurangnya
ikan lele yang dibudidayakan karena akibat masuknya ikan kelumpur atau
ada yang memancing.padahal anggapan itu belum tentu benar karena
hilangnya ikan lele atau berkurangnya hasil itu murni disebabkan
kesalahan prosedur budidaya.
Semua dikupas dalam tulisan di modul yang disusun oleh penulis.
HARAPAN PENULIS
Dengan disusunnya modul yang bisa dipesan diharapkan dapat :
1. Membantu pem budidaya ikan lele yang selama ini selalu rugi dalam
budidaya ikan lele. Dan tidak terjerumus oleh buku buku yang hanya
memberikan harapan setinggi langit tetapi tidak sesuai fakta.
2. Meningkatkan atau menambah penghasilan masyrakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat jawa tengah pada khususnya.
3. Banyak lahan kosong yang dapat digunakan untuk menghasilkan uang untuk meningkatkan kesejahteraan.
4. Membantu program pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran di Indonesia.
- JANGAN MELIHAT BENTUK BUKU ATAU MODUL DAN UANG YANG DIKELUARKAN,TETAPI LIHATLAH ISI DARI BUKU ITU YANG SEHARGA JUTA AN RUPIAH
- UNTUK MENDAPATKAN PENGHASILAN DAN PENDAPATAN YANG MELIMPAH SESEORANG
HARUS BEKERJA KERAS DAN MEMERLUKAN MODAL.( BOHONG BILA TANPA
MODAL,BEKERJA KERAS BISA MENDAPATKAN HASIL YANG MELIMPAH)
PENDAHULUAN
Dalam
beberapa waktu belakangan ini banyak sekali masyarakat kita yang
mencoba berbudidaya ikan lele baik di pembesaran maupun
pembenihannya.Kebanyakan yang dipilih adalah pembesaran yang “katanya”
lebih gampang. Faktor yang melatar belakangi budidaya di masyarakat kita adalah :
- Kesulitan ekonomi masyarakat secara global
- Mendapat informasi dari teman atau keluarga yang telah berkecimpung di budidaya lele
- Tertarik dengan banyaknya buku buku tentang budidaya ikan lele
- Adanya lahan kosong yang bisa bermanfaat bila dikembangkan
Pada
kenyataannya setelah beberapa waktu berbudidaya ternyata banyak sekali
yang menemui kegagalan.Beberapa kejadian yang sering terjadi dalam
budidaya ikan lele adalah:
- Banyak ikan lele yang hilang/sakit
- Hasil atau tonase jauh dari harapan
- Banyaknya kerugian yang dialami
Kalau dilihat dari harga di pasaran jelas sangat menggiurkan.1 kg ikan lele bisa sampai Rp 15.000.00. Inilah yang banyak budidayawan terjebak ingin mencoba budidaya ikan lele.padahal budidaya ikan lele bukan coba coba. Harga yang melambung tinggi harusnya bisa disimpulkan kalau budidaya ikan lele tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Karena
hal hal tersebut saya ingin meluruskan dan mencoba membantu masyarakat
lewat tulisan yang mungkin secara tampilan tidak terlalu bagus tapi isi
dari tulisan ini insyaAllah bisa bermanfaat bagi masyarakt pada umumnya
dan pembudidaya ikan lele pada khususnya.
Didalam
tulisan ini insya Allah akan dikupas lebih lanjut beberapa faktor yang
menjadi kendala bagi budidaya ikan lele. Dan bila ada yang berminat dan
serius menekuni budidaya ini bisa menghubungi penulis.
FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI BERBUDIDAYA IKAN LELE
Budidaya ikan lele sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat pulau jawa pada khususnya. Harga benih
maupun ikan lele konsumsi melambung tinggi. Inilah yang menggiurkan
sebagian orang untuk berkecimpung dalam usaha budidaya ikan lele. Ada
yang mempunyai modal tinggi maupun modal yang pas pas an mencoba
peruntungan.Sayang sekali tekad yang dipunyai tidak disertai dengan
pengetahuan tentang program budi daya lele dengan benar. Mereka
hanya tahu setengah setengah.entah dari buku atau orang orang yang
“katanya”sudah pernah berkecimpung dalam usaha itu awalau kebenarannya
diragukan. Akhirnya budidaya yang dilakukan sekedar pekerjaan yang hanya membuang tenaga dan uang saja.
Faktor yang membuat masyarakat ingin berbudidaya adalah :
1. KESULITAN EKONOMI MASYARAKAT SECARA GLOBAL
Pada masa sekarang ini tidak dapat dipungkiri ekonomi kita terpuruk. Harga
barang pokok melonjak drastis. Pendapatan sebulan yang dulu bisa untuk
keperluan lain lain sekarang untuk beli lauk telur pun susah apalagi
daging. Hal inilah yang memicu sesorang untuk
mendapatkan hasil sampingan selain penghasilan pokok. Salah satu yang
bisa diandalkan adalah budidaya ikan lele. Walaupun sampai sekarang
jarang yang berhasil.Hal inilah yang menyebabkan harga ikan lele melambung tinggi. Barang langka di pasar maka harga barang akan naik dan permintaan meningkat.
2. MENDAPAT INFORMASI DARI TEMAN ATAU KELUARGA YANG TELAH BERKECIMPUNG DI BUDIDAYA LELE
Kalau dihitung banyak masyarakat kita yang sudah berkecimpung diusaha budidaya ikan lele. Sebanyak 80%
menggunakan sistem tradisional dan hanya 20 % yang menggunakan sistem
semi intensif dan intensif. Bagi orang awam gagal atau tidaknya budidaya
yang tahu hanya pelaksananya saja. Masyarakat akan memandang bila ada
lele yang banyak sekali dikolam berarti untung.Padahal belum tentu.Dan
bila ada yang bertanya tentang hasil panen itu pasti jawabnya “ UNTUNG”. Kenapa jawabnya seperti itu padahal bila yang melihat orang budidaya pasti RUGI. Jawabnya: MALU.
Inilah yang sering dipakai dimasyarakat kita.kita percaya omongan orang
tanpa tahu kebenarannya.Setelah mengikuti teman kita baru kita tahu
bahwa benar budidaya itu susah sah gampang. Budaya IKUT IKUT an inilah
yang menjadikan banyak budidaya mengalami kegagalan.
3. Tertarik dengan banyaknya buku buku tentang budidaya ikan lele
Bila
kita berkunjung ke toko buku baik yang besar maupun kecil banyak sekali
dijual buku buku tentang budidaya ikan lele. Bagi masyarakat yang masih
awam dari buku inilah mereka dapat ilmu tentang program budidaya ikan lele. Tapi
patut disayangkan banyak buku buku itu justru menjerumuskan masyarakat
yang baru pertama kali berkecimpung dalam budidaya ikan lele. Terutama
pada bagian analisa usaha serta proses budidaya itu sendiri. Terkesan
program yang ditawarkan terlalu muluk muluk. Keuntungan yang sangat
besar hampir tidak ada resiko. Tetapi kenyataannya banyak yang mengalami
kegagalan. Dalam tulisan ini penulis akan mengupas hal hal yang
harusnya ada dalam budidaya
4. Adanya lahan kosong yang bisa bermanfaat bila dikembangkan
Di pedesaan banyak sekali tanah dan lahan kosong yang
tidak produktif.Hal ini dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk membuat
kolam ikan.Sayang sekali kolam yang digunakan masih tradisional yaitu
dengan cara membuat lubang atau kubangan sehingga bisa menjadi kolam
ikan.Padahal ini sangat tidak efektif untuk budidaya ikan lele.Mengapa?
Jawabanya ada dalam tulisan
BEBERAPA PARADIGMA YANG KELIRU TENTANG BERBUDIDAYA
1. BENIH IKAN
Banyak
dari teman teman budidaya kita meremehkan tentang benih ikan lele yang
akan di tebar. Kita kadang “sembarangan” dalam hal memilih dan membeli
benih ikan lele.
Mereka
menyediakan bibit lele dari 2 kondisi yaitu dari pembenihan dengan
kolam tanah dan tanpa tanah.Banyak yang melakukan pembesaran ikan lele
di kolam terpal atau tembok yang tanpa tanah tapi bibit yang digunakan
bibit lele dari kolam tanah. Padahal hal ini salah karena terdapat 2
kondisi yang berbeda.yaitu dari kondisi yang baik ke kondisi yang lebih
ekstrem. Hasilnya pertumbuhan lambat,banyak yang kena penyakit dan
bermuara pada hasil panen yang merosot tidak sesuai dengan keinginan.
Untuk mengetahui mengapa bisa seperti itu dan bagaimana cara mengatasinya dapat menghubungi penulis.
2. PAKAN
Banyak
pembudidaya dalam mengelola pembesaran ikan lele menggunakan program
pakan sesukanya dengan menghiraukan prosedur yang ada. Ada yang
menggunakan pakan pelet standar tapi hanya sebagian atau malah kurang
dari 50%. Mereka menambahkan pakan dengan daging,kerang,ayam mati,tikus
mati dan beberapa daging yang tidak terpakai untuk porsi pakan ikan
lele. Sepintas kalau dilihat memang ekonomis dari biaya pakan yang cukup
mahal. Tetapi sebenarnya hal tersebut jusru akan merugikan petani
budidaya. Boleh di cek yang menggunakan pakan tambahan tersebut diatas
pasti mengalami kerugian total.Hasil panen menurun drastis misalnya
harusnya menghasilkan 200 kg yang ada hanya 20 – 40 kg dengan tambahan
adanya ikan lele berukuran super besar 3 – 5 ekor..Benar atau
tidak?Setelah itu petani budidaya akan bingung kenapa bisa
terjadi.padahal sudah diberi pakan tambahan yang kalau dilihat “Lebih
bergizi dan berprotein”(Menurut perasaan).
Disini
penulis ada jawabannya dan cara mengatasinya.bila berminatdapat
menghubungi penulis untuk mendapatkan jawaban dan cara mengatasinya.
3. JUMLAH TEBAR
Untuk
jumlah tebar sebagian besar petani budidaya ikan lele jarang yang
menghitung berapa jumlah yang sesuai dengan kolam yang dipunyai. Tidak
jarang untuk kolam denga luas 3 x 5 meter di beri bibit ikan lele lebih
dari 10.000 ekor. Hasilnya banyak ikan yang tidak
tumbuh. Muncul pertanyaan “ kok gak besar besar lele yang dipelihara.”.
dan setelah dipanen lagi lagi hasil panen mengecewakan.selain tonase
kurang dari yang diharapkan ikan yang dihasilkan kurus kurus dan tidak
disukai pasar.Apa yang terjadi..
Lewat
modul yang disusun oleh penulis akan didapat jawabannya dan dapat
diketahui cara mengatasinya. Tertarik? Anda dapat menghubungi penulis.
4. KOLAM
Pemilihan
kolam yang dipakai untuk budidaya kadang terlihat sepele.padahal itu
menentukan keberhasilan dan kelangsungan budidaya lele itu sendiri. Banyak
petani budidaya yang gulung tikar atau rugi terus menerus karena salah
memilih bentuk kolam.Ada beberapa jenis kolam yang digunakan dalam
budidaya ikan lele dari kolam beton/tembok,kolam tanah,kolam terpal atau
perpaduan dua kolam tersebut.
Masing
masing mempunyai kelebihan dan kelemahan masing masing..tetapi ada satu
yang lebih ekonomis,efektif dan efisien..dan kolam itu adalah kolam
terpal dengan desain tertentu.mengapa desain
tertentu.karena ada beberapa keunggulan kolam itu dibanding kolam
lain.salah satunya bisa menghemat biaya operasional dan praktis.ada
kelebihan lain. Kelihatan sederhana tapi bisa dibuktikan keefektifan dan
keefisiennya
Anda
bisa dapatkan model kolam itu dengan menghubungi penulis untuk
mendapatkan modul yang akan mengupas segala persoalan budidaya itu.
5. AREAL KOLAM
Yang
dimaksud dengan areal kolam adalah tanah atau lahan yang akan digunakan
untuk budidaya ikan lele.Kadang kita menggunakan areal luas yang
seharusnya bisa menghasilkan 8 juta – 10 juta rupiah tetapi banyak yang
hanya mendapatkan untung ratusan ribu bahkan merugi yang akhirnya
terbengkalai menjadi lahan yang tidak efektif.
Didalam tulisan atau modul yang disusun penulis anda akan dapatkan cara memanfaatkan lahan seoptimal mungkin.
6. HILANG ATAU BERKURANGNYA IKAN LELE
Ada
anggapan sebagian teman teman budidaya kita hilang atau berkurangnya
ikan lele yang dibudidayakan karena akibat masuknya ikan kelumpur atau
ada yang memancing.padahal anggapan itu belum tentu benar karena
hilangnya ikan lele atau berkurangnya hasil itu murni disebabkan
kesalahan prosedur budidaya.
. ANTIVIRUS
Antivirus adalah sebuah jenis perangkat lunak yang digunakan untuk mendeteksi danmenghapus virus komputer dari sistem komputer. Disebut juga Virus ProtectionSoftware. Aplikasi ini dapat menentukan apakah sebuah sistem komputer telahterinfeksi dengan sebuah virus atau tidak. Umumnya, perangkat lunak ini berjalan dilatar belakang (background) dan melakukan pemindaian terhadap semua berkas yangdiakses (dibuka, dimodifikasi, atau ketika disimpan).Yang dimaksud dengan perangkat lunak atau software antivirusadalah sebuah jenisperangkat lunak yang digunakan untuk mendeteksi virus yang ada pada komputerlalu kemudian menghapus virus yang ada pada sistem komputer. Perangkat lunakantivirus disebut juga virus protection software. Dengan perangkat lunak ini kitadapat mengetahui apakah sebuah sistem komputer terkena sebuah virus atau tidak.Pada umumnya, perangkat lunak ini berjalan pada latar belakang atau backgrounddan juga melakukan pemindaian terhadap semua berkas yang diakses.
CARA KERJA ANTIVIRUS
Sebagian besar antivirus bekerja dengan beberapa teknik seperti di bawahini:
• Teknik Pertama : Pendeteksian dengan menggunakan basis data virussignatureatau istilah lainnya adalah virus signature database: Cara kerja antivirus inimerupakan pendekatan yang banyak digunakan oleh jenis antivirus tradisional, yangmencari tanda-tanda dari keberadaan suatu virus pada komputer denganmenggunakan sebagian kecil dari kode virus yang telah dianalisis oleh penciptaantivirus, dan telah dikatalogisasi sesuai dengan jenisnya, ukurannya, kemampuanpengapusan virus dan juga beberapa kategori yang lain. dengan cara ini perangkatlunak antivirus dapat dikatakan cepat dan dapat diandalkan untuk mendeteksikeberadaan virus-virus yang telah dianalisa oleh pembuat antivirus, tapi caratradisional ini tidak dapat mendeteksi virus yang baru hingga nanti basis data virussignature yang baru diinstalasikan ke dalam sistem.
• Teknik Kedua : Pendeteksian dengan cara melihat bagaimana virus itu bekerja :Cara kerja antivirus seperti ini merupakan pendekatan yang baru yang dipinjam dariteknologi yang diterapkan dalam Intrusion DetectionSystem. Cara ini seringdinamakan juga sebagai Behavior – blocking detection. Cara ini memakai kebijakanyang harus diterapkan untuk mendeteksi keberadaan sebuah virus. Jika terdapattanda-tanda pada perangkat lunak yang “tidak wajar” menurut kebijakan yangditerapkan, contohnya adalah sebuah perangkat lunak yang mencoba melakukanpengaksesan address book atau buku alamat untuk mengirimkan e-mail secaramassal kepada alamat email yang berada di dalam address book tersebut (hal inisering dipakai oleh virus untuk menularkan virus dari satu ke komputer ke komputer lain melalui akses internet dengan fasilitas email), dengan mengetahui cara kerjavirus tersebut maka antivirus akan menghentikan proses yang dilakukan olehperangkat lunak yang bergerak tidak wajar akibat virus tersebut.
Perangkat lunakAntivirus juga bisa mengisolasi kode-kode yang dicurigai sebagai virus hinggaadministrator menentukan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Keuntungan denganmenggunakan cara ini ialah antivirus dapat mendeteksi keberadaan virus-virus baruyang belum dikenali oleh basis data virus signature. Kekurangannya, cukup jelaskarena antivirus model seperti ini berkerja dengan cara memantau cara kerjaperangkat lunak secara keseluruhan bukan memantau data, jadi seringnya antivirusmembuat alarm palsu {jika konfigurasi antivirus terlalu „keras‟}, atau bahkanmengizinkan virus untuk berkembangbiak dan menyebar di dalam sistem {ikakonfigurasi antivirus terlalu “lunak}.Saat ini perangkat lunak antivirus yang menggunakan teknik kedua atau Behavior –blockingdetection masih sedikit. Tapi nanti suatu saat di masa mendatangkemungkinan besar akan menggunakan teknik ini, atau menggunakan dua teknikdalam satu pake software antivirus.
• Teknik Pertama : Pendeteksian dengan menggunakan basis data virussignatureatau istilah lainnya adalah virus signature database: Cara kerja antivirus inimerupakan pendekatan yang banyak digunakan oleh jenis antivirus tradisional, yangmencari tanda-tanda dari keberadaan suatu virus pada komputer denganmenggunakan sebagian kecil dari kode virus yang telah dianalisis oleh penciptaantivirus, dan telah dikatalogisasi sesuai dengan jenisnya, ukurannya, kemampuanpengapusan virus dan juga beberapa kategori yang lain. dengan cara ini perangkatlunak antivirus dapat dikatakan cepat dan dapat diandalkan untuk mendeteksikeberadaan virus-virus yang telah dianalisa oleh pembuat antivirus, tapi caratradisional ini tidak dapat mendeteksi virus yang baru hingga nanti basis data virussignature yang baru diinstalasikan ke dalam sistem.
• Teknik Kedua : Pendeteksian dengan cara melihat bagaimana virus itu bekerja :Cara kerja antivirus seperti ini merupakan pendekatan yang baru yang dipinjam dariteknologi yang diterapkan dalam Intrusion DetectionSystem. Cara ini seringdinamakan juga sebagai Behavior – blocking detection. Cara ini memakai kebijakanyang harus diterapkan untuk mendeteksi keberadaan sebuah virus. Jika terdapattanda-tanda pada perangkat lunak yang “tidak wajar” menurut kebijakan yangditerapkan, contohnya adalah sebuah perangkat lunak yang mencoba melakukanpengaksesan address book atau buku alamat untuk mengirimkan e-mail secaramassal kepada alamat email yang berada di dalam address book tersebut (hal inisering dipakai oleh virus untuk menularkan virus dari satu ke komputer ke komputer lain melalui akses internet dengan fasilitas email), dengan mengetahui cara kerjavirus tersebut maka antivirus akan menghentikan proses yang dilakukan olehperangkat lunak yang bergerak tidak wajar akibat virus tersebut.
Perangkat lunakAntivirus juga bisa mengisolasi kode-kode yang dicurigai sebagai virus hinggaadministrator menentukan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Keuntungan denganmenggunakan cara ini ialah antivirus dapat mendeteksi keberadaan virus-virus baruyang belum dikenali oleh basis data virus signature. Kekurangannya, cukup jelaskarena antivirus model seperti ini berkerja dengan cara memantau cara kerjaperangkat lunak secara keseluruhan bukan memantau data, jadi seringnya antivirusmembuat alarm palsu {jika konfigurasi antivirus terlalu „keras‟}, atau bahkanmengizinkan virus untuk berkembangbiak dan menyebar di dalam sistem {ikakonfigurasi antivirus terlalu “lunak}.Saat ini perangkat lunak antivirus yang menggunakan teknik kedua atau Behavior –blockingdetection masih sedikit. Tapi nanti suatu saat di masa mendatangkemungkinan besar akan menggunakan teknik ini, atau menggunakan dua teknikdalam satu pake software antivirus.
B. SEJARAH
Sejarah Perkembangan AntivirusSedangkan sejarah perkembangan program antivirus dibagi dalam beberapa generasi,yakni sebagai berikut :• Generasi pertama Berupa scanner sederhana, antivirus menscan program untuk menemukan tanda-tanda keberadaan signature virus. Teknis ini terbatas hanya untuk mendeteksi virus-virus yang telah dikenal.• Generasi keduaBerupa “scanner yang pintar” (heuristic scanner). Antivirus menggunakan aturan-aturan pintar (heuristic rules) untuk mencari kemungkinan infeksi virus.• Generasi ketigaAntivirus bekerja berupa jebakan-jebakan aktivitas (activity trap). Program antivirusini merupakan program yang menetap di memori (memory resident program).Program ini mengidentifikasi virus melalui aksi- aksinya bukan dari struktur programyang diinfeksi.• Generasi keempatAntivirus berupa proteksi penuh (full featured protection). Antivirus generasi inimenggunakan beragam teknik antivirus secara bersamaan. Teknik-teknik ini meliputiscanning dan jebakan-jebakan aktivitas.Beberapa anti virus gratis yang menjadi referensi untuk memusnahkan virus-virusdiatas diantaranya adalah PC Mav, Ansav, Free AVG, Kaspersky, Avira, Smadavdan masih banyak lagi. Anti virus tersebut memiliki kekurangan dan kelebihanmasing-masing, oleh karena itu para pengguna computer diharapkan semakin cerdasdan bijak dalam mengaplikasikan komputer dengan mengiukuti terus perkembangan.
KRISIS LAYANAN KEMANUSIAAN, KEBANGKITAN INDIVIDUALISME, DAN KEBUTUHAN AKAN KOMUNITAS
Kamis, 14 November 2013
Posted by Unknown
Kerja
masyarakat (“community work”) sebuah profesi, sebagian melihat sebagai
satu aspek dari suatu profesi atau pekerjaan lain seperti kerja sosial atau
kerja kaum muda, sebagian melihatnya sebagai anti profesional; sebagian
melihatnya sebagai masyarakat yang berkumpul untuk meningkatkan lingkungan
pertetanggaan mereka; sebagian melihatnya dalam arti yang lebih ambisius
seperti memperbaiki ketidak adilan sosial dan mencoba membuat dunia menjadi
tenpat yang lebih baik (Kenny, 1999).
Istilah
– istilah kerja masyarakat, pengembangan masyarakat, pengorganisasian
masyarakat, aksi masyarakat, praktik masyarakat, dan perubahan masyarakat biasa
digunakan, sering kali saling dipertukarkan, dan walaupun banyak yang mengklaim
bahwa terdapat perbedaan – perbedaan yang penting antara sebagian atau semua
istilah tersebut, tidak ada kesepakatan dalam apa perbedaan – perbedaan itu,
dan tidak ada consensus tentang berbagai perbedaan makna yang diimplikasikan oleh
setiap istilah tersebut.
Penyebab
utama dari banyak kebingungan, dan ketidakcukupan yang tampak dari apa yang
diterima sebagai teori kerja masyarakat, adalah bahwa kerja masyarakat tidak di
tempatkan selayaknya dalam kontek sosial dan politiknya, atau dikaitkan pada
suatu visi sosial yang diartikulasikan dengan jelas, dengan suatu cara yang
analisisnya berhubungan dengan aksi dan praktik ‘kehidupan nyata.
Istilah
yang belakangan ini dipandang sebagai proses pembentukan, pembentukan kembali,
struktur – strukrur masyarakat manusia yang memungkinkan berbagai cara baru
dalam mengaitkan dan mengorganisasi kehidupan sosial serta pemenuhan kebutuhan
manusia. Dalam konteks ini, kerja masyarakat dilihat sebagai kegiatan, atau
praktik dari seseorang yang berusaha memfasilitasi proses pengembangan
masyarakat tersebut, baik dengan cara orang itu dibayar maupun tidak dalam
melakukan peran tersebut.
PEMBAHASAN
A. Krisis Dalam Negara Kesejahteraan.
Sejak
awal tahun 1980an telah terdapat kesepakatan substansial diantara para penulis
kebijakan sosial bahwa Negara kesejahteraan telah memasuki suatu periode
krisis, Negara kesejahteraan dalam
masyarakat barat sudah tidak sanggup memberikan semua janji – janji pada masa
consensus yang optimis paska perang.
Krisis
legitimasi Negara kesejahteraan sebagian disebabkan oleh krisis sumber daya /
fiscal (O’Connor, 1973), perlambatan pertumbuhan ekonomi memberi beban yang
jauh lebih besar kepada pemerintah – pemerintah, dan pada saat yang sama
meningkatkan permintaan public akan layanan – layanan Negara kesejahteraan
melalui tingkat – tingkat pengangguran dan kemiskinan yang lebih tinggi.
Pengaruh
krisis dalam Negara kesejahteraan jelas terlihat pada level pemberian layanan,
pemotongan layanan – layanan public yang terus terjadi, pengurangan mutu
layanan yang disebabkan oleh para pekerja yang terlalu terbebani untuk
melakukan lebih banyak hal dengan lebih sedikit sumber daya, daftar tunggu, dan
periode tunggu yang lebih panjang, kurangnya akses kepada layanan kesehatan,
penurunan sistem pendidikan public, moral staf yang rendah, kepenuhsesakan, dan
perasaan kurangnya percaya diri yang umum dalam memenuhi kapasitas sistem
public.
1. Tanggapan Terhadap Krisis.
a. Mempertahankan
dan membangun kembali Negara kesejahteraan.
Tanggapan
ini mendesak untuk menekankan kembali nilai – nilai demokrasi sosial dan
kolektivis yang pernah mendukung pengembangan Negara kesejahteraan pada era
paska perang, dan berupaya untuk membangun kembali visi sistem yang lebih adil,
berdasarkan atas prinsip – prinsip kemanusiaan, kesetaraan, redistribusi
progresif, mengayomi dan keadilan sosial, yang provisi layanan – layanan
kemanusiaannya kuat kepada public dilihat sebagai tanda dari sebuah masyarakat
yang beradab.
b. Paham
‘new right’ neoliberalisme (rasionalisme ekonomi) dan privatisasi.
Pendekatan
ini bertujuan membongkar struktur – struktur Negara yang diperuntukan bagi
provisi layanan public, dan menggantinya dengan kegiatan sector swasta yang
dikendalikan oleh pasar. Hal ini berada dalam keyakinan bahwa pasar, dengan
sedikit atau tanpa regulasi adlah mekanisme terbaik untuk provisi layanan –
layanan kemanusiaan, karena hal ini memksimumkan efisiensi, mendorong kompetisi
dan memaksimumkan pilihan individual dan akuntabilitas kepada konsumen.
c. Manajemen
public yang baik.
Hal
ini muncul dari keyakinan bahwa sector pablik sangat tidak efisien dan
membutuhkan perombakan besar.
d. Korporatisme.
Pendekatan
korporatis cenderung memecahkan penghalang – penghalang tradisional antara
provisi swasta dan public seperti pada manajemen public yang baru, departemen –
departemen pemerintahan didorong untuk menyamai atau melebihi sector swasta
(korporatisasi) dalam hal struktur, praktik manajemen, pemasaran layanan,
kewiraswastaan, dan kebijakan ketenagakerjaan. Pendekatan ini dapat mengarah
kepada pembentukan badan – badan yang tidak dapat dengan jelas ditetapkan
sebagai public atau swasta, bergantung pada pendanaan baik dari Negara maupun
pasar, dengan akuntabilitas baik kepada pemeritah maupun kepada independen.
e. Tanggapan
sosialis.
Penulis
dengan perspektif yang lebih Marxis memandang krisis Negara kesejahteraan ini
sebagai suatu manifestasi dari krisis dalam kapitalisme. Negara kesejahteraan
dilihat telah tumbuh beriringan dengan sistem kapitalis, sebagai bagian
integral, dan sebagai mekanisme esensial untuk memelihara orde kapitalis.
2. Ketidakcukupan Tertentu Dari Tanggapan Paham Paham
Arus Utama Dan Sosialis.
Kesulitan
menghadapi kritik bahwa struktur – struktur birokrasi yang besar dan terpusat,
yang merupakan konskuensi dari suatu sistem Negara kesejahteraan yang tak dapat
dihindari, tidak efektif dan tidak efisien dalam memberi layanan kemanusiaan,
dan bahwa struktur – struktur tersebut justru mendehumanisasi, mengucilkan dan
melemahkan mereka yng maksudnya dilayani. Selain itu, lemahnya landasan
teoritis dari pendekatan demokrasi sosial terhadap kesejahteraan telah membuat
para pembela Negara kesejahteraan terbuka untuk diserang baik dari kanan maupun
kiri; disini dapat dkemukaan argumentasi bahwa hanya pada era consensus paska
perang landasan – landasan ideology Negara kesejahteraan dapat tetap utuh, dan
consensus ini telah lama tiada.
Pasar
bebas cenderung memperburuk, bukan mengurangi ketidakadilan sosial dan ekonomi,
dan atas nama kompetisi dan individualisme, pasar bebas meniadakan nilai –
nilai kepedulian, solidaritas sosial, kohesi dan komunitas.
3. Bahaya ‘New Right’ dan Korporatisme
Bahaya ‘New Right’ dan Korporatisme adalah penting
bagi pekerja pengembangan massyarakat untuk menyadari adanya bahaya-bahaya ini,
karena hal ini merupakan aspek penting dari konteks kontemporer pengembangan
masyarakat dan layanan-layanan berbasis masyarakat. Pada hakikatnya,
bahaya-bahaya tersebut terletak pada transformasi neoliberalisme dari sumber
daya sosial menjadi barang-barang privat yang diperjualbelikan.
4. Visi-visi Terbatas dan Kebangkitan Individualisme
Erosi komunitas dan peningkatan konsentrasi kekuatan
ekonomi global telah mendorong peningkatan individualisme, terutama dalam
masyarakat Barat. Di sana, nilai ditempatkan pada individu dan capaian
individual. Kegagalan berprestasi dikaitkan dengan kekurangan individual.
Penghargaan kepada capaian individual memperkuat kompetisi di atas kooperasi.
Kompetisi selanjutnya, melemahkan ikatan sosial dan cenderung menyingkirkan
yang lain. Sikap menyalahkan individu membuat struktur- struktur yang tidak
adil menjadi tidak tampak dan mendorong permusuhan,ketakutan dan kecurigaan
terhadap mereka yang menyimpang dari norma dan mereka yang menjadi pesaing. Dominasi
kompetisi dan dukungan sosial yang melemah yang menyertainya terjadi di banyak
tingkat. Bukan hanya kompetisi
antarindividu menjadi lebih nyata, tetapi kebijakan pemerintah, seperti
outsourching dan lelang pekerjaan yang kompetitif.
5. Keberatan Mendasar.
Krisis dalam negara kesejahteraan adalah hasil dari sistem sosial,
ekonomi dan politik yang tidak berkelanjutan, dan yang telah mencapai suatu
titik krisis ekologis. Setiap tanggapan konvensional atas krisis dalam negara
kesejahteraan adalah suatu yang dalam dirinya sendiri didasarkan atas
asumsi-asumsi yang berorientasi pada pertumbuhan yang tidak berkelanjutan, dan
oleh karena itu dirinya sendiri tidak berkelanjutan.
Keberatan
terhadap tanggapan- tanggapan sosial politik tradisional atas krisis dalam
negara kesejahteraan adalah yang bertujuan untuk mengembangkan suatu pendekatan
alternatif kepada praktik dan kebijakan layanan kemanusiaan yang lebih
konsisten dengan masyarakat berkelanjutan yang sejati. Maka dari itu pada
tempatnya untuk mempertimbangkan kebenaran ini secara lebih rinci. Negara
kesejahteraan telah tumbuh secara berdampingan dengan kapitalisme industri, dan
harus dilihat sebagai bagian integral dari orde sosial, ekonomi dan politik
yang ada. Jadi kapitalisme indutri modern tidak mungkin akan suatu bentuk
negara kesejahteraan yang ada untuk memenuhi kebutuhan manusia, untuk
memelihara kestabilan dan keamanan dan
untuk membuat para pekerja tetap sehat, bahagian dan cukup terdidik sehingga
proses-proses pekerja tetap produksi dan reproduksi dapat dipertahankan.
Analisis
tersebut memberikan arti bahwa negara kesejahteraan harus dilihat dalam
konteks, dan tidak terpisah dari kapitalisme industri lanjut. Kapitalisme
industri dalam bentuknya sekarang tidak dapat tetap hidup tanpa suatu bentuk
negara kesejahteraan, maka yang sewajarnya adalah bahwa negara kesejahteraan
dalam bentuknya sekarang tidak dapat tetap hidup tanpa orde ekonomi kapitalisme
industri di mana negara kesejahteraan itu berkembang. Dari perspektif ini,
krisis dalam negara kesejahteraan tidak dapat secara memuaskan diselesaikan
dengan menggunakan salah satu dari empat strategi yang diuraikan yaitu sistem
sosial, ekonomi dan politik yang berorientasi pertumbuhan yang ada sekarang di
dalam negara kesejahteraan berada, jelas tidak berkelanjutan dalam segala hal
kecuali dalam rentang waktu yang sangat pendek. Dengan berubahnya struktur
masyarakat sebagaimana dari perspektif ekologis mereka harus berubah, berbagai
struktur dan layanan yang berbeda untuk secara lebih adil memenuhi kebutuhan
manusia haruslah dikembangkan. Negara kesejahteraan bukanlah suatu perlengkapan
tetap yang permanen, dan juga bukan suatu komponen alamiah dari peradaba
manusia.
B. Layanan Berbasis Masyarakat Sebagai Suatu
Alternativ.
Terjadi
peningkatan minat pada program – program berbasis masyarakat sebagai sebuah
modal alternative untuk menyampaikan layanan – layanan kemanusiaan untuk
pemenuhan kebutuhan – kebutuhan manusia secara adil (Shragge, 1990 ; ife, 1993
;Ewalt, Freeman dan Poole, 1998 ; Frellin, 2001). Sesudah keluarga, gereja,
pasar dan Negara sekarang mungkin giliran ‘komunitas’ yang memikul tanggung
jawab utama untuk menyampaikan provisi layanan – layanan dala bidang seperti
kesehatan,pendidikan, perumahan dan kesejahteraan. Pada pandangan pertama
tampak bahwa suatu pendekatan berbasis masyarakat kepada layanan – layanan
kemanusiaan adalah konsisten dengan gagasan dari suatu sistem ‘negara paska
kesejahteraan’ yang didasarkan pada prinsip – prinsip keberlanjutan.
1. Berbagai Masalah Pendekatan Konvensional Pada
‘Layanan Berbasis Masyarakat’.
a. Mengurangi
komitmen kepada kesejahteraan.
Pemerintah
bermaksut memotong biaya, sering kali lebih mudah mengurangi pendanaan untuk
program – program berbasis masyarakat daripada pendanaan untuk layanan untuk
layanan setara yang dilakukan oleh Negara. Hal ini karena keputusan yang sulit
untuk mengurangi layanan yang dibuat pada tingkat masyarakat, biasanya oleh
sebuah panitia pengelolaan local. Sehingga pengurngan itu tidak mudah terlihat
sebagai kesalahan pemerintah, walaupun itu merupakan akibat langsung dari
pengurangan dana pemerintah.
b. Privatisasi
tersembunyi.
Hal
ini dapat mengakibatkan sebuah proyek berbasis masyarakat menjadi dioperasikan
oleh suatu filosofi yang digerakkan oleh pasar dengan tujuan maksimalisasi
keuntungan – bukan memenuhi kebutuhan manusia.
c. Keluarga.
Kecenderungan
tersebut terutama terlihat dalam bidang ‘perawatan oleh masyarakat’ bagi mereka
yang tidak sanggup mandiri. Hal ini sering kali tidak berarti bahwa sebentuk
masyarakat otonomus local akan menerima tanggung jawab untuk perawatan
seseorang (sebagaimana akan terjadi pada sistem berbasis masyarakat yang
sejati) tetapi bahwa orang yang bersangkutan akan dirawat ‘dalam masyarakat’
oleh para anggota keluarganya, biasanya perempuan.
d. Gender.
Suatu
perubahan kepada layanan berbasis masyarakat dapat membebani perempuan secara
tidak proporsional, baik karena peran tradisional mereka sebagai pemelihara
primer dan karena lebih tingginya tingkat partisipasi mereka, disbanding dengan
lawan jenisnya, dalam sector masyarakat.
e. Tirani
lokalitas.
Suatu
pendekatan berbasis masyarakat dapat dilihat sebagai pembatasan orang pada
komunitas mereka ketika mereka mungkin lebih senang mencari layanan ditempat
lain, baik karena keyakinan bahwa layanan yang lebih baik tersedia dilokasi
lainatau karena suatu harapan untuk hadir secara anonim dan suatu keinginan
untuk menghindari gosip dan tetangga yang ikut campur.
f. Ketidaksetaraan
lokasional.
Karena
beberapa masyarakat mempunyai sumber daya lebih baik daripada yang lainnya,
suatu perpindahan kepada pendekatan berbasis masyarakat dapat benar – benar
memperkokoh ketidaksetaraan yang ada antar masyarakat, sering kali berdasar
atas kelas. Masyarakat dengan sumber daya yang lebih baik akan mampu
menyediakan tingkat – tingkat layanan yang lebih tinggi, dan masyarakat yang
tersingkir dapat menjadi semakin tersingkir oleh penolakan dukungan dari suatu
pemerintahan pusat yang kuat.
C. Unsur Yang Hilang: Pengembangan Masyarakat.
Terdapat
sebuah entitas yang disebut ‘komunitas’ yang menjadi dasar dari layanan
kemanusiaan yang dibangun diatasnya, asumsi ini bersifat problematis karena
dalam masyarakat barat kontemporer terjadi kebangkitan individualisme dan tidak
ada struktur komunitas yang kuat.
1. Janji komunitas.
Walaupun
banyak persoalan yang berkaitan dengan pengembangan masyarakat, dan banyak
factor dalam masyarakat industry modern yang menentangnya, gagasan komunitas
tetap memiliki kekuatan. Ia juga telah berperan sebagai sebuah visi yang kuat
bagi masyarakat untuk bertindak dan membangun kembali masyarakat yang kuat.
2. Modal sosial dan masyarakat madani.
Gagasan
modal sosial adalah bahwa seseorang dapat melakukan investasi secara sosial
sebagaimana secara ekonomis, dan bahwa modal ekonomis dari suatu masyarakat
dapat bertambah, jika ini terjadi atas biaya modal sosial maka perolehan
tersebut adalah semu.
Bagian
dari membangun modal sosial adalah memperkuat ‘masyarakat madani’, masyarakat
madani adalah istilah yang digunakan untuk struktur – struktur formal atau
semiformal yang dibentuk masyarakat secara sukarela, dengan inisiatif mereka
sendiri, bukan sebagai konskuensi dari program atau arahan tertentu dari
pemerintah.
3. Kebutuhan Akan Orang Asing.
Dengan
adanya transformasi dari Gemeinschaft ke Gesellschaft layanan
kemanusiaan, seperti interaksi sosial lainnya telah menjadi dasar atas hubungan
– hubungan instrumental, dimana pemberi layanan dan pengguna layanan saling
mengenal hanya sebatas peran tertentu saja. Akhir-akhir ini, layanan kemanusian
telah dengan semangat menganut menejemen kasus sebagai sesuatu bentuk pemberian
layanan. Hal ini merupakan contoh peran-peran instrumental dari pemberian dan
pengguna layanan dan mewakili hubungan-hubungan instrumental yang paling
mencolok dan dramatis yang pernah di
saksikan.
Bahkan
namanya menghindarkan rasa hubungan kemanusian, layanan menjadi pengendali satu
kasus. Dari pendekatan yang tadinya memenuhi kebutuhan tetangga, kita telah
beralih kesuatu sistem yang didasarkan
atas memenuhi kebutuhan orang asing, sebagai mana diuraikan oleh sejumlah penulis
Titmuss 1970; Wilensky dan Lebeaux, 1965, Watson 1980, Ignatieff, 1984. Ini
adalah perubahan yang mendasar dan membutuhkan suatu justifikasi moral yang
berbeda, prinsip etis yang lain, dan diatas segalanya.
Ideal
dari nagara kesejahteraan yang sosial demokratis adalah menerima superioritas
dari model kebutuhan orang asing untuk beberapa alasan :
1) Standar
minimum yang cukup.
Tujuan
dari mencapai standar – standar minimum yang cukup (dalam kesehatan, perumahan,
pendidikan, keamanan pendapatan dsb) terletak pada dua asumsi : yaitu bahwa
pencapaian standar minimum yang cukup dan seragam adalah mungkin, dan bahwa hal
itu diinginkan. Kedua asumsi ini dapat dipermasalahkan.
2) Keadilan
sosial.
Devinisi
keadilan sosial adalah sebuah pertanyaan sulit, akan tetapi apapun devinisinya
tidaklah mudah membuat alasan yang kuat untuk melanjutkan pendekatan kebutuhan
orang asing didasarkan atas keadilan sosial. Dikemukakan oleh Le Grand (1982)
adalah suatu kesalahan untuk menciptakan sebuah masyarakat yang lebih adil,
diperlukan lebih banyak lagi perubahan structural, dan Negara kesejahteraan benar
– benar hanya dapat memperbaiki akibat – akibat terburuk dari ketidakadilan
struktural.
3) Imparsialitas.
Konsep
ideal dari imparsialitas belum dapat dicapai oleh Negara kesejahteraan modern,
dan parsialitas yang tak terhindarkan telah mengakibatkan pembedaan tingkat
akses kepada layanan dan beragam kualitas layanan, perbedaan – perbedaan ini
telah cenderung memperkuat ketidaksetaraan dalam kelas, ras, dan gender.
4) Kerahasiaan.
Sebagaimana
jaringan komunikasi yang besar ini, ada kecenderungan bagi para pekerja untuk
bergosip, dan terjadi juga tak terhindarkan pelanggaran keamanan, kesalahan
penempatan dokumen. Jadi asumsi kerahasiaan tidak dapat dibuat pada urusan –
urusan seseorang dengan Negara kesejahteraan, dan memberi tahu kebutuhan dan
masalah – masalah seseorang.
5) Anonimitas.
Layanan
– layanan yang menjamin anonimitas hanya cenderung untuk menjadi depersonalisasi,
dan suatu preferensi untuk anonimitas hanya masuk akal dalam sebuah masyarakat
yang berbagai masalahnya dilihat sebagai urusan pribadi, dan yang interaksi
sosialnya melewati hubungan – hubungan instrumental yang terkotak-kotak di
lihat sebagai penyimpangan atau berbahaya. Anonimitas dalam Negara
kesejahteraan bukan sebuah alasan untuk mempertahankan model kebutuhan – kebutuhan
orang asing, tetapi dianggap sebagai sebuah alasan kuat untuk mencari
alternatif yang lebih berbasis-masyarakat
6. Akuntabilitas
Iklim
rasionalisme ekonomi dan manajerialisme yang ada sekarang hanya mayoriti satu
arah dari akuntabiritas_yaitu,akuntabilitas ‘ke atas’ kepada menejemen. Yang lebih penting lagi, perspektif ini
adalah akuntabilitas ‘kebawah’ kepada penguna layanan atau ‘ke luar’
kemasyarakat.negara kesejahteraan mungkin cukup efektif dalam memastikan
akuntabilitas kebawah dan keluar; faktanya strukturnya sendiri
menghalangi-halangi hal ini.


